Home » Puisi Dan Pantun » PUISI ALAM

PUISI ALAM

Monday, March 25th 2013. | Puisi Dan Pantun

Alam beserta isinya menjadi inspirasi untuk menulis puisi. puisi alam bercerita tentang fenomena yang bisa ditemui di lingkungan sekitar kita. Para pecinta alam tentu memiliki lebih banyak lagi sumber inspirasi untuk puisinya mengingat pecinta alam sering sekali bergelut dengan kondisi alam seperti hutan, pegunungan, sungai dan sebagainya. Sewaktu mengunjungi objek wisata alam pegunungan, misalnya, kita bisa mencoba menuangkan apa yang kita lihat tentang pegunungan tersebut, apakah kondisinya masih hijau, belum tersentuh tangan jahil manusia atau sebaliknya, wilayah pegunungan itu sudah gundul karena penebangan pohon di lereng-lerengnya. Apapun yang kita lihat, tuliskan dalam bentuk bait puisi alam.

puisi alam

Di bawah ini adalah kumpulan puisi alam dengan berbagai kondisinya. Ada alam yang masih hijau, indah ada pula yang sudah hancur karena ulah manusia. Puisi alam ini bisa mengingatkan kita untuk selalu menjaga alam ini sebagai titipan tempat tinggal untuk anak cucu kita kelak. Menulis puisi tentang alam juga sebagai kampanye untuk menjaga alam sekitar dan merawatnya.

kata mutiara dan kata bijak memang sangat indah apalagi bila terangkum dalam puisi. Nikmati terus konten menarik yang tersedia di blog ini dan temukan yang kamu cari di sini.

Hutan
hutan..
kau hasilkan udara segar
udara segarmu,seakan menghilangkan sekejap kepenakan ditubuh ku
hutan…
kau adalah sumber kehidupan
kau menghidupkan berbagai macam hewan di dunia ini
hutan..
kau adalah paru paru dunia
tanpa kau..
mungkin dunia ini akan terasa begitu panas,karna kau tidak dapat menyejukan nya kembali
tanpa kau..
mungkin hewan langka didunia ini tidak akan pernah kami lihat lagi,karna kau sudah tidak ada untuk menghidupkan mereka
hutan..
begitu banyak manfaat mu
aku berjanji akan melindungi mu
aku tidak akan pernah menyakitimu
karena engkau..kami dapat bertahan hidup..
jadi..kawan kawan lindungi lah hutan kita!!!!

BULAN TERTIKAM
bulan merah di tengah celah
lelehkan darah tertikam panah
misteri jagat tak tercatat
pada prasasti dalam sejarah

bidadari mendesah
malaikat menggeliat

rimba belantara bergejolak
jagat raya mencairkan gletser ke setiap ketiak alam
menenggelamkan segala rasa, sungguh dalam

bencana apakah ini maka lingga muncratkan gairah
gelora apakah ini maka telaga semburkan kekuatan megah
gempa apakah ini maka badai pusingkan kutub-kutub bumi

di atas hamparan salju merekah kembang ayu
dan seekor kumbang menukik mengucup madu
meneteskan kencing biru

bidadari mendesis
malaikat mengayunkan pedang wasiat
menyala berkilat
sesaat teramat cepat tanpa isyarat

bulan merah tertikam
bukit yoni pun pecah terbelah
: duhai dahsyatnya!

Anak Gunung
Sepasang mata burung awasi kami dari gunung
Sesaat lenyap melekat pada kulit-kulit kayu yang murung
:langit berubah warna
Warna api dan asap-asap mimpi
Sepasang batu kali dari mata air kami jadikan kalung
sesaat bening terkena air mata penjaga hutan yang mati bertarung
:tanah berubah dingin
Dingin kabut dan matras-matras butut
Malam ini kami berbicara
Melingkar membakar lelah untuk dijadikan bara
Malam ini kami penuh dahaga
Berbaring mengecap titik-titik air langit yang berjelaga
Biarkan kami habiskan malam
Bersama pekat dan bintang bintang bisu
Biarkan juga kami bercengkrama dengan alam
Bersama lagu dan pohon-pohon yang tertidur lesu
(terasa angin jilati kuping-kuping kami)
Sementara kami bersedih
Mengingat kawan mati oleh sepasang mata burung
(langit tak lagi bersedih tapi malah meludahi kami)
Sunyi seketika berbunyi
Langkah-langkah kaki berlari
Berjejal tubuh-tubuh basah dalam tenda kami
(Malam tak restui kami mengingat kawan-kawan yang telah mati. Langit masih meludah, api masih menyala, pohon-pohon masih tertidur dan sepasang mata burung masih terjaga)