Home » Puisi Dan Pantun » Puisi Sedih Tentang Kerinduan

Puisi Sedih Tentang Kerinduan

Tuesday, March 26th 2013. | Puisi Dan Pantun

Kalau sudah merasa rindu, memang tak karuan rasanya. Contohnya saya, karena suatu hal saya harus tinggal jauh dari kampung halaman dan keluarga tercinta padahal sebelumnya saya belum pernah berjauhan dari mereka. Memang semua berjalan lancar tapi kalau sudah rindu keluarga, kampung halaman, masakan khas daerah saya dan sebagainya, saya jadi tidak bersemangat beraktifitas. Mau pulang kampung pun tidak memungkinkan, jadi saya tuliskan saja apa yang saya rasakan dalam bentuk puisi. Puisi rindu, rindu keluarga, rindu kampung halaman dan banyak lagi lainnya. Lumayanlah, melampiaskan rasa rindu dengan puisi jadi sedikit terobati rasa ini. Puisi rindu ini juga sekaligus menjadi tambahan koleksi puisi saya.

puisi rindu

Jika teman-teman juga sedang merasa rindu boleh juga melakukan apa yang saya lakukan tadi. Tapi bila kamu kesulitan dalam menulis puisi tapi tetap ingin membaca kumpulan puisi rindu. Kamu tetap bisa mendapatkannya di blog ini. Ada kumpulan puisi rindu yang bisa dibaca, banyak juga tema pilihannya. Silahkan saja untuk menjadikan puisi rindu ini sebagai tambahan koleksi puisi kamu.

Semoga puisi-puisi rindu ini bisa bermanfaat buat kamu. Siapa tahu dengan membaca puisi rindu ini kamu jadi pandai merangkai kata bijak dan kata mutiara dan menuangkannya dalam puisi karya kamu sendiri. Dapatkan konten yang tak kalah menarik lainnya hanya di blog ini.

PUISI RINDU BUAT IBU
Ijinkan aku,…. ibu
Aku akan datang ibu
Bukan hendak menggugat kepergianmu
Ingin ku katakan
Kepergianmu adalah kesedihan
Dalam hatiku
Untuk mewujudkan syukur dan
Sabar
Aku akan kembali ke pangkuanmu ibu
Lewat lantunan puisi
Yang menyaksikan daun-daun yang
Berguguran tanpa batang
Ibu…,Aku merindukanmu
Aku tak mampu mengantar kepergianmu
Langit mendung turut berduka
Orang-orang riuh rendah becerita
Tentang segala amal kebaikanmu
Aku datang kepadamu, ibu
Semilir di bawah kamboja dan nisanmu
Aku menangis dan berdoa
Mengenang segala salah dan dosaku kepadamu
Kepergianmu seketika mendewasakan aku
Mengajarkan aku betapa penting arti hidup
Untuk menjadi berguna bagi sesama
Kepergianmu mengajarku
Bagaimana harus mencintai dan menyayangi
Bagaimana harus tulus berkorban dan bersabar
Bagaimana harus berjuang demi anak-anaknya
Hingga saat terakhir hayatmu
Engkau terus berdoa demi kebahagiaan anak-anakmu
Hari ini aku menemuimu, ibu
Lewat sebait puisi untuk mengenangmu
Bila datang saatnya nanti
Kan kuceritakan segala ketangguhan dan kesabaranmu
Bersama embun fajar kemarau ku sertakan doa
Semoga engkau mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya

LUKISAN HATI

Aku ingin pulang kepada hati yg kucintai
tapi aku harus menunggu,
di setiap heningku tak pernah lelah kau menemaniku
walau itu hanya bayang-bayang senyummu yg bila kusentuh senyum itu pergi

Di setiap matahari pergi, s’lalu saja terlihat saat kau berpaling dan berjalan meninggalkanku
aku ingin bertahan untuk orang yang kucintai
karena kupikir tak mungkin hanya sebatas ini cintaku

Kunikmati kesepian-kesepian ini
dengan nada, dengan mimpi, juga dengan kenanganmu
biar saja rindu ini hidup di dasar hati
menunggu sampai waktu yang panjang menegurnya
sampai ia menemui apa yang ia inginkan, apa yang ia rindu

Telah kubingkai namamu, lihatlah sangat indah di dalam hati
dan perpisahan ini tak mampu merusaknya sama sekali
suatu hari nanti jika kita bersatu lagi, kan kubacakan puisi ini untukmu
dan jika tidak, kan kubacakan sajak ini pada matahari di senja hari, atau pada bulan yang s’lalu menanti …
ini hanya sekedar lukisan hatiku saat ini, dan entah seperti apa di suatu hari

Puisi Kerinduan Kepada Ayah dan Bunda
Bunda..
Meniti jalan hidupku
Menggapai semua cita-citaku
Selalu kau juangkan
Tapi, apa aku ?

Ayah..
Bila mentari terbit
Hingga fajar menjelma
Semua kau korbankan
Tapi, tak sadar aku ?

Bunda..
Ingin aku menangis dipelukmu
Ingin aku bersujud dikakimu
Ampuni aku bunda

Begitu juga dengamu ayah
Biarkn aku mengusap keringatmu
Biarkn aku mencium tanganmu
Do’akan aku ayah

Ayah, Bunda..
Aku bak puing-puing beterbangan
Hilang tak berarah
Aku bak karang terhempas ombak
Sakit tak bersayang
Tanpamu..
Bunda..
Tak ingin aku padamkan kobaran diwajahmu
Tak ingin aku tancapkan belati di hatimu
Tak sadar aku

Bunda..
Ku redupkan mentarimu.
Terhina aku

Ayah..
Ingin aku selimuti kerinduanku
Ingin aku lukiskan jasamu
Tak bisa aku ayah
Aku gores kecil jiwamu
Maafkan aku

Berkibar, berdebur amarahmu
Ku campakkan tak hirau aku

Dimana aku bunda?
Siapa aku ayah?

Ayah, Bunda..
Izinkan aku bisikkan cinta padamu
Meski hilang di hembus bayu
Sayup sayu senja temaniku
Datang gelap pun tiba

Terimakasih ayah
Terimakasih bunda
Telah kau titipkan bintang dipundak ku
Dan saat aku terbangun
Hanya engkau dipanca ku